12 Desember 2025, 03.04 WIB – Presiden Prabowo Subianto untuk ketiga kalinya meninjau lokasi bencana banjir di Aceh hari ini (Jumat, 12/12/2025) setelah tiba di Bandara Kualanamu Medan pukul 02.50 WIB. Kali ini, fokus utamanya adalah pada infrastruktur bendungan irigasi yang rusak parah akibat banjir bandang. Data terbaru BNPB per 11 Desember 2025 pukul 19.45 WIB menunjukkan korban tewas mencapai 990 jiwa di tiga provinsi (Aceh: 407, Sumut: 343, Sumbar: 240), dengan 225 orang masih hilang dan 5.100 terluka.
Di tengah krisis ini, Prabowo menyoroti pentingnya Prabowo Tinjau Banjir Aceh Soroti Infrastruktur Bendungan Irigasi sebagai solusi jangka panjang. Mengapa ini penting? Karena bendungan dan irigasi adalah kunci ketahanan pangan yang kini terancam. Di Aceh saja, 37.546 rumah rusak, 204 jembatan hancur, dan ribuan hektar sawah terendam. Ini adalah kunjungan ketiga Prabowo setelah kunjungan pertama pada 30 November dan kedua pada 7 Desember 2025.
Kunjungan Ketiga Prabowo: Monitoring Langsung Perbaikan Infrastruktur

Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Prabowo tiba di Medan pukul 03.04 WIB pada Jumat (12/12/2025) setelah penerbangan dari Jakarta. “Bapak Presiden Prabowo tiba di Medan, Sumatra Utara, untuk selanjutnya akan meninjau beberapa kabupaten di Aceh pagi ini,” kata Teddy. Ini adalah kunjungan ketiga setelah kunjungan pertama pada 30 November dan kunjungan kedua pada 7 Desember 2025.
Pada kunjungan kedua (7/12), Prabowo meninjau Jembatan Bailey di Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, dan menegaskan target ambisius: perbaikan jembatan dalam 7 hari. “Ini kita lihat salah satu jembatan bailey yang rusak. Mereka kerja terus diharapkan satu minggu sudah bisa buka,” katanya saat itu. Jembatan ini krusial untuk akses ke Bener Meriah dan Takengon.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bendungan dan irigasi. “Tadi dilaporkan bendungan-bendungan juga banyak yang jebol, yang besar-besar maupun yang kecil-kecil, irigasi sangat penting,” ungkap Prabowo dalam Ratas di Posko Lanud Sultan Iskandar Muda (7/12). Kerusakan bendungan berdampak langsung pada 11.950 hektar lahan pertanian di Aceh yang kini tidak bisa berproduksi optimal.
Presiden menunjuk Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Maruli Simanjuntak sebagai Satgas Percepatan Perbaikan Jembatan dan Infrastruktur. “Saya tunjuk nanti KASAD, sebagai satgas percepatan perbaikan jembatan nanti dibantu pemerintah daerah karena beliau punya banyak pasukan konstruksi, pasukan pembangunan,” tegas Prabowo.
Komitmen Prabowo untuk monitoring langsung sangat kuat. Dalam Ratas yang disiarkan YouTube Sekretariat Presiden, suaranya sempat bergetar saat menutup rapat. “Saya akan terus monitor. Mungkin setiap beberapa hari saya akan datang ke semua daerah. Saya hanya memberi moril saya mau tahu, dengar langsung apa yang dibutuhkan sehingga ada keputusan cepat,” ungkapnya. Seluruh menteri dan kepala lembaga serta Gubernur Aceh bertepuk tangan mendengar ucapan presiden tersebut.
Ingin tahu lebih dalam tentang program swasembada pangan? Kunjungi Winrip IBRD untuk informasi terkini seputar investasi infrastruktur dan pembangunan ekonomi.
Data Faktual BNPB: 990 Korban, 157.900 Rumah Rusak, 498 Jembatan Ambruk

Data BNPB per 11 Desember 2025 pukul 19.45 WIB menunjukkan gambaran mengerikan bencana Sumatera yang terus bertambah:
Korban Jiwa (Update Terbaru):
- 990 orang meninggal (Aceh: 407, Sumut: 343, Sumbar: 240)
- 225 orang hilang (turun dari 252 orang pada 10/12)
- 5.100 orang terluka
- 833.900 jiwa mengungsi (turun dari 884.889 jiwa – mulai ada yang pulang)
Kerusakan Infrastruktur:
- 157.900 rumah rusak (Aceh: 37.546 rumah – tertinggi)
- 498 jembatan hancur (Aceh: 204 jembatan)
- 581 fasilitas pendidikan rusak
- 219 fasilitas kesehatan rusak
- 434 rumah ibadah rusak
- 290 gedung/kantor rusak
- 1.200 fasilitas umum rusak
Dampak Wilayah:
- 52 kabupaten/kota terdampak di 3 provinsi
- Aceh: 18 kabupaten (225 kecamatan, 3.658 gampong)
- 50% gampong di Aceh terdampak langsung
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers (11/12) menyatakan: “Sehingga jumlah total korban jiwa dari yang 969 jiwa per kemarin, 10 Desember 2025 menjadi 990 jiwa pada hari ini Kamis 11 Desember 2025.” Dari 21 jenazah yang ditemukan, sebagian besar berasal dari Aceh Utara yang masih menjadi episentrum bencana.
Kabupaten dengan Korban Terbanyak:
- Kabupaten Agam (Sumbar): 183 jiwa – tertinggi
- Tapanuli Tengah (Sumut): 158 jiwa
- Aceh Utara: 154 jiwa
- Aceh Tamiang: 111 jiwa
- Tapanuli Selatan: 85 jiwa
Di Aceh Utara, situasi sangat kritis dengan 209.500 pengungsi, sedangkan Aceh Timur mencatat 238.500 pengungsi – angka tertinggi di seluruh wilayah terdampak. BNPB mengoptimalkan distribusi logistik melalui jalur udara untuk daerah terisolir, sementara jalur darat mulai dibuka kembali untuk mengirim bantuan non-pangan seperti tenda, matras, dan selimut.
Menko PMK Pratikno menegaskan dalam keterangan pers (3/12) bahwa Presiden menginstruksikan: “Bapak Presiden memberikan instruksi agar situasi ini diperlakukan sebagai prioritas nasional, termasuk jaminan bahwa dana dan logistik nasional tersedia secara penuh, secara total.”
Bendungan Rukoh dan Keureuto: Harapan Baru Pasca-Bencana

Ironis, di tengah kehancuran akibat banjir, Kementerian PUPR justru tengah menyelesaikan dua bendungan besar di Aceh: Bendungan Rukoh (Kabupaten Pidie) dan Bendungan Keureuto (Kabupaten Aceh Utara). Keduanya dijadwalkan diresmikan awal 2025 oleh Presiden Prabowo.
Bendungan Rukoh (dibangun 2018-2024, biaya Rp 1,7 triliun):
- Kapasitas: 128 juta m³
- Mengairi: 11.950 hektar lahan pertanian
- Intensitas tanam: 300% (padi-padi-palawija)
- Reduksi banjir: 89,62%
- Potensi PLTS: 140 MW
- Air baku: 0,90 m³/detik
Bendungan Keureuto (salah satu terbesar di Sumatera):
- Kapasitas: 216 juta m³
- Mengairi: 9.455 hektar lahan irigasi
- Reduksi banjir: 30% di Aceh Utara
- Potensi listrik: 6,34 MW
- Air baku: 0,5 m³/detik untuk 5 kecamatan
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan: “Infrastruktur sumber daya air sangat penting untuk mendukung sasaran swasembada pangan. Dari bendungan, bendung, lalu masuk ke irigasi primer, sekunder, dan tersier hingga langsung ke sawah-sawah.”
Direktur Jenderal SDA juga sedang menyelesaikan Daerah Irigasi Jambo Aye yang membentang di Aceh Utara dan Aceh Timur, dengan sumber air dari Sungai Arakundo. Area fungsional Bendungan Keureuto mencakup DI Alue Ubay Kanan (2.743 ha) dan DI Krueng Pase Kanan (3.417 ha).
Kedua bendungan ini diharapkan menjadi solusi preventif terhadap banjir di masa depan, sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional. PT Hutama Karya juga tengah merehabilitas jaringan irigasi di Aceh dan Riau sebagai bagian dari Program Optimasi Lahan (OPLAH) Kementerian Pertanian.
Penghapusan Utang KUR Petani: Force Majeure Berlaku

Salah satu kebijakan paling menggembirakan bagi petani adalah pengumuman Prabowo tentang penghapusan utang KUR Pertanian. “Utang-utang gugur karena ini kejadian luar biasa ya. Utang akan dihapus. Ini bukan kelalaian, tapi force majeure,” tegas Presiden saat bertemu petani di Bireuen.
Kebijakan ini berlaku untuk petani yang sawah dan irigasinya rusak akibat bencana. Force majeure (keadaan memaksa) adalah klausul hukum yang membebaskan debitur dari kewajiban pembayaran karena kondisi di luar kontrol mereka. Ini sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Jaringan Irigasi.
Fakta Dampak terhadap Pertanian:
- Ribuan hektar sawah terendam lumpur
- Material banjir merusak struktur tanah
- Sistem irigasi rusak total di beberapa daerah
- Petani kehilangan akses ke lahan produksi
Prabowo juga menjanjikan bantuan Rp 60 juta per rumah untuk perbaikan hunian rusak. “Per hari ini, Bapak Presiden, rumah masyarakat yang rusak itu sampai 37.546 rumah baik yang rusak berat — rusak berat ini termasuk yang hilang kena sapu banjir,” lapor Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam Ratas.
Untuk menjaga ketersediaan pangan selama masa pemulihan, pemerintah akan mengirim cadangan pangan nasional. “Sementara belum bisa produksi penuh, maka pangan akan kita kirim dari tempat lain, kita punya cadangan nasional cukup banyak,” ujar Prabowo.
KASAD Jadi Satgas Percepatan Perbaikan Infrastruktur
Dalam strategi percepatan pemulihan, Prabowo menunjuk Jenderal Maruli Simanjuntak (KASAD) sebagai Komandan Satgas Percepatan Perbaikan Jembatan dan Infrastruktur. Keputusan ini strategis mengingat TNI AD memiliki:
- Pasukan konstruksi terlatih dan terorganisir
- Pasukan pembangunan dengan peralatan berat
- Pasukan teritorial yang memahami medan lokal
- Mobilitas cepat ke daerah terisolir
“Saya tunjuk nanti KASAD, sebagai satgas percepatan perbaikan jembatan nanti dibantu pemerintah daerah karena beliau punya banyak pasukan, konstruksi, pasukan pembangunan, pasukan teritorial, jadi segera membantu,” jelas Prabowo.
Target Prioritas Satgas:
- Perbaikan 498 jembatan rusak (fokus pada 3 jembatan utama ke Bener Meriah dan Takengon)
- Pembukaan akses jalan yang terisolir
- Rehabilitasi bendungan dan irigasi
- Pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap)
Dalam rapat koordinasi di Posko Lanud Sultan Iskandar Muda (7/12), Prabowo menegaskan: “Jangan ada yang bermain-main. Bekerjalah serius demi kepentingan rakyat. Jangan sampai ada yang terlibat korupsi ketika anggaran nantinya akan digelontorkan pemerintah pusat.”
Presiden juga berkomitmen untuk monitoring rutin. “Saya akan terus monitor. Mungkin setiap beberapa hari saya akan datang ke semua daerah. Saya hanya memberi moril saya mau tahu, dengar langsung apa yang dibutuhkan sehingga ada keputusan cepat,” ungkapnya dengan suara bergetar saat menutup ratas.
Bantuan Internasional dan Publik:
- Malaysia mengirim obat-obatan dan tim dokter (29/11)
- Starlink milik Elon Musk digratiskan hingga akhir Desember 2025
- Malaka Project Ferry Irwandi mengumpulkan Rp 10,37 miliar dalam 24 jam dari 87 ribu penyumbang
Target Swasembada Pangan 2025: Akankah Terwujud?
Bencana ini terjadi di saat pemerintahan Prabowo menargetkan swasembada pangan 2025 sebagai bagian dari Asta Cita poin 2. Dengan kerusakan masif pada infrastruktur pertanian, target ini kini menghadapi tantangan berat.
Fakta Kontribusi Aceh terhadap Pangan Nasional:
- Aceh menyumbang produksi beras signifikan untuk Sumatera
- Area irigasi yang rusak mencakup puluhan ribu hektar
- Intensitas tanam menurun drastis akibat kerusakan bendungan
Langkah Pemerintah Menghadapi Tantangan:
- Percepatan Penyelesaian Bendungan: 6 bendungan di 5 provinsi (termasuk 2 di Aceh) siap diresmikan awal 2025
- Rehabilitasi Jaringan Irigasi: PT Hutama Karya merehabilitas irigasi di 150 desa dengan 150 kelompok tani
- Teknologi Digital Construction: Penggunaan LiDAR dan drone untuk mempercepat pekerjaan
- Optimasi Lahan (OPLAH): Program Kementerian Pertanian untuk tingkatkan IP2 (Indeks Pertanaman 2)
Menurut Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, Kementerian PU mendapat mandat khusus untuk percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
Perkiraan Anggaran Pemulihan:
- Pemulihan pascabencana Sumut: Rp 12,8 triliun
- Total pemulihan Sumatera: Rp 50 triliun (proyeksi)
- Bantuan per rumah: Rp 60 juta
Prabowo menegaskan visi jangka panjang: “Kita tidak boleh bergantung pada sumber makanan dari luar. Masalah pangan adalah soal kedaulatan, kemerdekaan, dan keberlangsungan bangsa.”
Realitanya, bencana ini justru mempercepat urgensi pembangunan infrastruktur tahan bencana. Bendungan Rukoh yang dapat mereduksi banjir hingga 89,62% dan Bendungan Keureuto dengan reduksi 30% menjadi bukti bahwa investasi infrastruktur sumber daya air adalah kunci ketahanan pangan dan mitigasi bencana.
Baca Juga Update Bencana Sumatera: Menhub Dudy Tangani Infrastruktur Medan–Lhokseumawe dengan Cepat & Tanggap
Harapan di Tengah Puing Bencana
Prabowo Tinjau Banjir Aceh Soroti Infrastruktur Bendungan Irigasi bukan sekadar kunjungan simbolis. Dengan 986 korban tewas, 157.900 rumah rusak, dan 800.000 pengungsi, ini adalah krisis nasional yang membutuhkan respons cepat dan terstruktur.
Komitmen perbaikan infrastruktur dalam seminggu, penghapusan utang KUR, dan pembentukan Satgas KASAD menunjukkan keseriusan pemerintah. Namun, tantangan sesungguhnya adalah memastikan Bendungan Rukoh dan Keureuto dapat beroperasi optimal untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Pertanyaan untuk pembaca: Dari 6 poin di atas, mana yang paling krusial untuk pemulihan jangka panjang Aceh? Apakah perbaikan infrastruktur fisik, bantuan ekonomi untuk petani, atau pembangunan sistem mitigasi bencana yang lebih baik?
Bagikan pandangan Anda di kolom komentar dan mari kita dukung pemulihan Aceh bersama-sama!