winrip-ibrd – Pasar tradisional masih menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia. Namun, seiring meningkatnya jumlah pedagang dan pengunjung, berbagai persoalan seperti kemacetan, sampah, pedagang kaki lima (PKL) yang memenuhi badan jalan, hingga fasilitas yang kurang memadai sering kali muncul. Kondisi tersebut juga terjadi di Pasar Baru Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Melihat persoalan yang terus berulang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah konkret dengan mendorong penataan ulang Pasar Baru Cikarang. Kebijakan ini bukan sekadar mempercantik kawasan pasar, tetapi juga bertujuan menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih tertib, nyaman, dan mampu meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.
Kondisi Pasar Baru Cikarang Sebelum Penataan
Pasar Baru Cikarang merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di Kabupaten Bekasi yang melayani kebutuhan masyarakat dari berbagai wilayah sekitar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini menghadapi sejumlah tantangan serius.
Permasalahan utama yang menjadi perhatian pemerintah antara lain:
- Pedagang yang berjualan hingga ke badan jalan.
- Kemacetan lalu lintas di sekitar Jalan RE Martadinata.
- Penumpukan sampah di area bawah pasar.
- Trotoar yang rusak dan tidak berfungsi optimal.
- Area parkir yang tidak tertata dengan baik.
- Bangunan pasar yang membutuhkan perbaikan fisik.
Situasi tersebut menyebabkan aktivitas perdagangan berjalan kurang efektif sekaligus menurunkan kenyamanan masyarakat yang berbelanja.
Dedi Mulyadi Turun Langsung ke Lapangan
Berbeda dengan pendekatan administratif semata, Dedi Mulyadi memilih untuk turun langsung meninjau kondisi pasar. Dalam kunjungannya ke Pasar Baru Cikarang, ia melihat berbagai persoalan yang selama ini dikeluhkan pedagang maupun masyarakat.
Dari hasil peninjauan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi menyepakati langkah penataan bertahap yang difokuskan pada perbaikan fasilitas dasar serta relokasi pedagang yang masih berjualan di luar area pasar.
Pendekatan ini menunjukkan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang dikenal cukup hands-on dan berorientasi pada penyelesaian masalah secara langsung di lapangan.
Program Penataan yang Akan Dilaksanakan
Penataan Pasar Baru Cikarang dilakukan melalui beberapa tahap prioritas.
1. Pembersihan Area Bawah Pasar
Salah satu fokus utama adalah membersihkan area bawah pasar yang selama ini dipenuhi tumpukan sampah dan ruang-ruang yang tidak tertata. Area tersebut nantinya akan disiapkan sebagai lokasi yang layak untuk menampung pedagang.
2. Perbaikan Infrastruktur Dasar
Pemerintah juga akan melakukan:
- Perbaikan trotoar.
- Pengaspalan area pasar menggunakan hotmix.
- Pemasangan paving block.
- Perbaikan beberapa titik bangunan yang mengalami kerusakan.
- Pengecatan ulang bangunan pasar.
Langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman sekaligus meningkatkan estetika kawasan pasar.
3. Relokasi Pedagang ke Dalam Pasar
Pedagang yang selama ini berjualan di luar area pasar dan memanfaatkan badan jalan akan dipindahkan ke dalam bangunan pasar yang telah ditata ulang.
Konsep penempatan pedagang juga disesuaikan berdasarkan jenis dagangan. Pedagang sayur akan ditempatkan di area bawah, sementara pedagang pakaian dan makanan akan menempati area lain yang telah disiapkan. Bahkan lantai atas pasar direncanakan menjadi sentra kuliner atau food court.
Data Statistik Penataan Pasar Baru Cikarang
Berikut rangkuman kondisi dan target penataan berdasarkan informasi pemerintah daerah:
| Aspek Penataan | Kondisi Sebelumnya | Target Setelah Penataan |
|---|---|---|
| Pedagang di badan jalan | Masih banyak ditemukan | Direlokasi ke dalam pasar |
| Area bawah pasar | Dipenuhi sampah dan tidak tertata | Menjadi area perdagangan yang layak |
| Trotoar | Rusak dan kurang tertib | Diperbaiki dan difungsikan kembali |
| Area parkir | Kurang optimal | Ditata melalui hotmix dan paving block |
| Bangunan pasar | Memerlukan perbaikan | Dicat ulang dan diperbaiki |
| Lalu lintas sekitar pasar | Sering terjadi kemacetan | Lebih tertib dan lancar |
| Revitalisasi besar | Belum tersedia | Ditargetkan mulai tahun 2027 |
Sumber: Pemprov Jawa Barat dan Pemkab Bekasi.
Pendanaan Melalui Program CSR
Salah satu hal menarik dari program ini adalah penggunaan skema Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank BJB sebagai sumber dukungan pembiayaan awal.
Melalui pendekatan ini, pemerintah dapat melakukan perbaikan cepat tanpa harus menunggu proses penganggaran jangka panjang. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pelaksanaan program juga akan melibatkan forum pedagang sehingga kebutuhan di lapangan dapat terakomodasi dengan lebih baik.
Model kolaborasi seperti ini dinilai cukup efektif karena melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas pedagang secara bersamaan.
Dampak Ekonomi yang Diharapkan
Penataan ulang pasar bukan hanya soal kebersihan atau keindahan kota. Ada dampak ekonomi yang cukup signifikan yang diharapkan muncul dari program ini.
Pertama, pedagang akan memperoleh lokasi usaha yang lebih nyaman dan aman. Kedua, pengunjung dapat berbelanja dengan lebih mudah tanpa harus menghadapi kemacetan atau kondisi lingkungan yang kurang bersih.
Selain itu, penataan yang baik berpotensi meningkatkan jumlah pengunjung sehingga perputaran ekonomi pasar menjadi lebih tinggi. Dalam jangka panjang, pasar yang tertib juga dapat meningkatkan daya saing terhadap pusat perbelanjaan modern.
Bagi Kabupaten Bekasi yang merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, keberadaan pasar tradisional yang tertata menjadi elemen penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Revitalisasi Besar Ditargetkan Tahun 2027
Selain program penataan jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Bekasi juga tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk revitalisasi menyeluruh Pasar Baru Cikarang.
Revitalisasi tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun 2027. Penyusunan DED dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, kebutuhan pedagang, serta arahan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dengan adanya DED, pembangunan nantinya tidak hanya fokus pada perbaikan fisik, tetapi juga pada tata ruang, sirkulasi pengunjung, area parkir, pengelolaan sampah, hingga pengembangan sentra kuliner yang lebih modern.
Tantangan dalam Implementasi
Meskipun mendapat dukungan luas, proses penataan tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Beberapa di antaranya adalah:
- Adaptasi pedagang terhadap lokasi baru.
- Kedisiplinan pedagang untuk tidak kembali ke badan jalan.
- Pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
- Pengawasan setelah proyek selesai.
- Sinkronisasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan komunitas pedagang.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan dan partisipasi seluruh pihak yang terlibat.

Langkah Dedi Mulyadi dalam menata ulang Pasar Baru Cikarang menunjukkan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada solusi nyata. Penanganan masalah sampah, relokasi pedagang, perbaikan infrastruktur, hingga rencana revitalisasi tahun 2027 menjadi bagian dari upaya menciptakan pasar yang lebih tertib dan modern.
Bagi masyarakat Bekasi, khususnya para pedagang dan konsumen, program ini menghadirkan harapan baru terhadap terciptanya lingkungan perdagangan yang lebih nyaman, aman, dan produktif. Jika berjalan sesuai rencana, Pasar Baru Cikarang berpotensi menjadi contoh sukses transformasi pasar tradisional di Jawa Barat yang tetap mempertahankan fungsi ekonomi rakyat sambil beradaptasi dengan kebutuhan perkotaan modern.
Referensi
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat – Pemprov Jabar Bantu Penataan Pasar Baru Cikarang Melalui Program CSR.
- ANTARA – Pemprov Jabar bantu perbaikan Pasar Baru Cikarang melalui program CSR.
- TVOneNews – Sentuhan Dedi Mulyadi di Pasar Baru Cikarang: Dari Perbaikan Aspal hingga Revitalisasi 2027.
- RRI – Pemprov Jabar akan Arahkan CSR untuk Penataan Pasar Baru Cikarang.
- Suara Pemerintah – Kang Dedi Mulyadi Dorong Penataan Pasar Baru Cikarang, Revitalisasi Ditargetkan Mulai 2027.



